Sabtu, 26 November 2016

KEBUDAYAAN HADROH

Yuhuu rupanyaa ini yang kelima ada Kebudayaan Hadroh, yo dibacaaa yoo👀👓📖

  Hadroh merupakan salah satu seni tradisional asal Garut yang tumbuh dan berkembang di Desa Bojong Kecamatan Bungbulang.
Lahirnya seni hadroh ini tidak terlepas dari syiar Agama Islam, untuk pertama kalinya di perkenalkan oleh Kyai Haji Suradan dan Kyai Haji Ahmad Sayuti yang berasal dari Kampung Tanjung Singuru Kecamatan Samarang pada tahun 1917.
Kesenian Hadroh merupakan gabungan dari lagu - lagu keagamaan (lagu shalawat) yang diikuti dengan gerakan Jurus Silat. Kesenian ini banyak manfaatnya yaitu termasuk kesenian yang menyebarkan syiar Islam dan belajar ilmu bela diri untuk melawan penjajah. Pakaian yang digunakan adalah pangsi, iket (tutup kepala) dan selendang merah. Sedangkan peralatannya tetabuhan seperti kompeng dan dog - dog yang terbuat dari batang pohon pinang dan kulit kambing.

Noh hadroh tuh yang kya giniii ↓😉

KEBUDAYAAN KAMPUNG ADAT DUKUH

Uhuyyy lanjutt lagi yoo, okehh dikeempat ada Kebudayaan Kampung Adat Dukuh :¢ kya nama buahh yahh🍋*eh🙊 hihihi😅 cekidot ahh↪

  Kampung Dukuh adalah kampung yang terletak di Desa Ciroyom, Kec. Cikelet, Kab. Garut, Jawa Barat. Kampung Dukuh merupakan salah satu yang memiliki adat istiadat yg masih sangat melekat dan belum terpengaruh oleh kebudayaan dari luar dan kepemimpinannya dipimpin oleh Ketua suku atau Kuncen. Kampung dukuh didirikan oleh seorang ulama yang bernama Syekh Abdul Jalil.
  Dikampung Dukuh terdapat 42 susun rumah yang kehidupannya sangatlah sederhana baik dalam segi bangunan rumah adat, pakaian, sampai bahasa dan prilaku tingkah pola masyarakatnya. Jika anda akan berkunjung ke kampung ini kita perlu mengetahui pantangan-pantangan yang ada di kampung dukuh, seperti : pantangan laki-laki dan perempuan yang tidak boleh berdekatan adalah antara kaum adam dan kaum hawa yang bukan muhrimnya harus menjaga hijab ini karena didasarkan sesuai dengan syariat Islam. Pantangan menyelonjorkan kaki ke arah utara, ini dikarenakan di sebelah selatan kampung ini terdapat sebuah makam ulama yang bernama Syekh Abdul Jalil, sang juru kunci yang juga pendiri kampung ini. Pantangan itu diberlakukan untuk menghormati Syekh Abdul Jalil. Setiap hari sabtu warga disini selalu rutin berziarah ke makam karomah dengan dipimpin oleh sang Kuncen (Juru Kunci). Lalu tidak boleh bicara ketika sedang makan, harus memakai baju polos (tidak boleh bercorak atau bergambar) ketika berziarah, dan tidak boleh menggunakan peralatan elektronik. Hal ini dilakukan sebagai tanda kesederhanaan. Kesederhanaan ini sudah menjadi kebiasaan warga kampung dukuh.
Sikap sopan santun, ramah tamah, dan kesederhanaan dari warga kampung dukuh mencerminkan sikap budaya sunda yang terkenal dengan ramah kepada sesama. Para warga dikampung ini berusaha menyelaraskan kehidupan sosial dan budaya dengan prilaku menghormati alam, dua hal inilah yang patut ditiru oleh masyarakat perkotaan. Namun tidak semua kebiasaan yang dilakukan warga Kampung Dukuh dapat diterapkan. Islam itu memang sederhana namun bisa berkembang seiring dengan majunya teknologi sekarang ini.

Nahhh sekarang udah tau kan tentang Kampung Adat Dukuh, dan inii adalah tempatnyaa⤵sederhana sekalii bukan?🏡

KEBUDAYAAN HAJAT LAUT

Wii kita lanjut yuu ke kebudayaan yg ketigaa yaitu adaa Kebudayaan Hajat Lautt🌊⤵

  Hajat Laut merupakan upacara tradisional para nelayan dan masyarakat sebagai perwujudan rasa terima kasih mereka terhadap Tuhan yang Maha Esa. Upacara ini biasanya dilakukan pada setiap bulan Muharam.
Hajat laut sama sekali bukanlah hal yang musyrik, karena memang sudah sepantasnya kita menjaga, dan menghormati serta memeliara warisan nenek moyang yang telah turun temurun dilaksanakan, dan sudah menjadi satu keharusan bagi kita semua untuk melaksanakannya. Lalu hubungan dengan sesaji pun itu tujuannya bukan dipersembahkan untuk Ratu Pantai Selatan atau Nyi Roro Kidul. Hal itu hanya merupakan sebuah ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rizki-Nya.
● Persyaratan Ritual Hajat Laut "Sesaji"
  •> Makanan serta Alas sesaji
  •> Peralatan Nyirih
  •> Alat Dapur
  •> Umbi - umbian
  •> Jajanan Pasar
  •> Buah - buahan
  •> Pakaian Perempuan
  •> Pakaian Laki - laki
● Prosesi Ritual Hajat Laut
    Sebelum para nelayan membawa sesaji ke tengah laut, diadakan doa terlebih dahulu seperti Pembacaan ayat Suci Al Qur'an seperti membaca Surat Yasin bersama - sama.
Karena hanya kepada-Nyalah kita berserah diri, memohon dan bersyukur atas semua yang telah diberikan. Acara yang rutin dilakukan setiap tahun ini juga mempunyai makna, agar semua penduduk pantau mendapat keselamatan bilamana mereka mengambil sumber daya alam yang ada dilaut tanpa harus merusaknya.
Setelah seluruh rangkaian acara do'a selesai, dongdang "sesajen yang diletakan di sebuah bangunan rumah - rumahan"  diarak atau diiring menuju bibir pantai, istilah masyarakatn menyebutnya dengan kirab dongdang, atau arak - arakan dongdang. Dongdang dipanggul oleh kaum laki - laki, biasanya mereka memakai pakaian serba hitam dan iket khas Jawa Barat. Seragam ini dikenal dengan nama {Pangsi}. Di depan dongdang utama dikawal dua orang laki - laki yang membawa senjata tradisional (seperti tombak namun memiliki tiga cabang diatasnya, serta bagian bawahnya runcing) persi seperti seorang 'Patih ' yang mengawal orang - orang terhormat. Saat kira dingdang telah sampai dibibir pantai yang dituju, salah seorang sesepuh melakukan ritual terlebih dahulu, ritual ini dianalisir sebagai bentuk ijab-qobul dongdang, hal ini berkaitan dengan komunikasi beliau dengan alam tak kasat mata. Barulah dongdang mulai diturunkan ke pinggir laut. Beberapa dongdang yang berisikan kepala kerbau atau kambing dihanyutkan ke tengah laut, satu persatu dongdang mulai dinaikkan ke atas perahu [bermotor] untuk selanjutnya dibawa ke tengah laut. Serentak para nelayan mulai mengikuti perahu besar yang berisi sesaji tersebut, layankanya dilintasan balap para perahu nelayan mencoba untuk melaju cepat, merapat ketat ke perahu besar, mengawal dongdang utama hingga ke lokasi yang sudah ditentukan.
Sesampainya dilokasi tujuan "di tengah laut", dongdang tersebut satu persatu mulai diturunkan dari perahu untuk kemudian dihanyutkan. Keriangan para nelayan terlihat, dan terpancar dari mimik syukur, mata yang berbinar, dan suara riuh diantara mereka. Seketika, mereka dengan membawa ember, berloncatan ke tengah laut untuk lebih mendekat dengan dongdang utama. Setelah dongdang dilepas mengambang perlahan, para nelayan berebut air laut disekitar dongdang untuk seterusnya diguyurkan ke perahu mereka masing - masing. Konon, dengan cara seperti ini diharapkan selama satu tahun ke depan para nelayan bisa mendapat keberkahan serta keselamatan dengan hasil tangkapan lebih baik dari tahun - tahun sebelumnya. Setelah semua proses selesai, mereka pun kembali pulang dan berharap apa yang telah mereka lakukan hari ini bisa menjadi pertanda syukur mereka kepada pencipta dan pemberi rizki yakni Allah Subhanahu Wata'ala.

Ini diaa yang dinamakan *Tradisi Hajat Laut*👇

Jumat, 25 November 2016

KEBUDAYAAN GESREK

Yeee kita lanjut yang keduaa yaa ada kebudayaan Gesrek niii. Dibacaa oke ^_^

Gesrek merupakan kesenian tradisional yang terdapat di kampung Kamojangan Desa Pakenjeng Kecamatan Pamulihan. Kesenian tradisional ini disebut juga Seni Bubuang Diri (Mempertaruhkan NYAWA).
Atraksi yang dipertontonkan oleh pemain gesrek yaitu memainkan golok - golok yang tajam sambil mendemonstrasikan jurus silat, lalu golok itu di tusukkan ke perut, tangan dan lidahnya diiris - iris tanpa ada luka sedikitpun (tidak mempan).
Selain itu pemain dipukul oleh sebatang bambu dan bergulung - gulung atau berjalan diatas bara api. Pemain Gesrek terdiri dari 10 orang pemegang golok dan didukung oleh 4-7 orang yang bertugas menyediakan peralatan dan menjaga apabila ada orang yang mengganggu.

 Nihh liatt fotonyaa serem bukan? Kya yang mau dipenggal gtu yaa iiii jd takuttt

KEBUDAYAAN DEBUS/RUDAT

 Okee ;)Kita mulai yang pertama ada:        

    Debus/Rudat adalah salah satu jenis kesenian tradisonal rakyat yang berasal dari Jawa Barat yang terdapat didaerah Kecamatan Pameungpeuk Kabupaten Garut. Ini diciptakan kira-kira pada abad ke-13, pada waktu itu didaerah tersebut masih asing dan belum mengenal akan ajaran Islam secara meluas.

Kesenian ini di ciptakan oleh seorang penyebar Agama Islam yang dikenal dengan nama Ajengan (Ustad). Tujuannya untuk menarik masyarakat dalam kepentingan menyebarkan agama, menggunakan tetabuhan dari batang pohon pinang dan kulit kambing. Selain melatih seni tetabuhan, pemain debus juga diajarkan ilmu kemahiran jasmani dan rohani serta ilmu kekebalan tubuh, baik kebal terhadap benda - benda tajam maupun kebal terhadap pukulan. Debus/Rudat selain di Pameungpeuk berkembang juga secara aktif di Cikajang dan Singajaya, dan secara kurang aktif di Kecamatan Leles.
Nahh, asalkan kalian tahu aja jika para teman sekalian menyaksikan Debus/Rudat secara langsung pastinya akan membuat bulu kundukkk kaliann merindingg iii ngeriiii dehhh:(...

 Tuhh Debus/Rudat tuh yg kya ginii.. atuttt lohh..*-*